Dinsos Kudus Asesmen Murid SD di Kampung Sosial, Sebut Belum Mengarah Eksploitasi Anak

Berdasarkan hasil koordinasi cepat dengan pihak sekolah, terungkap hanya ada 2 murid yang tercatat memiliki kebiasaan tidak biasa, yakni meminta izin pulang lebih awal setiap kali jam pelajaran sedang berlangsung.
Untuk mendalami kondisi ekonomi mereka, DinsosP3AP2KB Kudus juga telah melakukan pengecekan data desil kemiskinan dari kedua keluarga murid tersebut.
"Informasi pulang sebelum jam belajar itu selesai itu, hanya 2 orang, yang satu malah ini jarang sekolah. Ini nanti kami akan melakukan assessment dulu untuk keluarga, ini juga sudah dicek desil berapa," ungkap Winarno.
Jaminan Pemenuhan Hak dan Kebutuhan Dasar Anak
Winarno berjanji, apabila hasil asesmen di lapangan menunjukkan bahwa anak-anak tersebut memang berasal dari keluarga kurang mampu yang terpaksa bekerja demi menyambung hidup, pemerintah akan segera turun tangan memberikan bantuan dan pendampingan khusus.
Langkah intervensi sosial yang disiapkan salah satunya adalah mengupayakan program rehabilitasi sosial agar hak anak untuk mendapatkan pendidikan dasar tidak terabaikan.
"Kalau memang nanti ada bedah rehabsos masuk, nanti kami masuk biar apa, biar haknya anak ini biar belajar, belajar itu kan wajib, kebutuhan dasar anak umur 7 sampai 12 tahun," katanya.
Dalam menjalankan proses asesmen keluarga tersebut, pihak dinas akan bekerja sama secara intensif dengan Pemerintah Desa Hadipolo guna memastikan data yang diperoleh akurat dan objektif.
Stigma Sekolah Kampung Sosial dan Sepinya Pendaftar
Isu mengenai murid yang diduga mengemis ini mencuat di tengah tekanan psikologis yang dihadapi SD 5 Hadipolo. Sekolah dasar negeri tersebut kini harus menanggung stigma negatif dari masyarakat sekitar sebagai "sekolah kampung sosial".
Stigma ini muncul karena mayoritas murid yang bersekolah di sana merupakan anak-anak dari keluarga terdampak relokasi bantaran Kali Gelis yang kini bermukim di kawasan Desa Hadipolo. Akibat label miring tersebut, sekolah ini sepi peminat pada penerimaan siswa baru tahun ajaran 2026/2027.
Plt Kepala SD 5 Hadipolo, Solikhul Hadi, membenarkan bahwa label negatif tersebut sangat memengaruhi kondisi psikologis di lingkungan sekolahnya.
"Untuk stigma itu memang kita dapat informasi dari masyarakat di sini sekolah kampung sosial. Di mana seluruh anak di sini itu memang dari kampung sosial yang orang-orang itu," kata Hadi saat ditemui di SD 5 Hadipolo, Rabu siang.
Hadi juga mengonfirmasi adanya kebiasaan aneh beberapa murid yang kerap mendesak guru kelas agar diizinkan pulang lebih cepat sebelum kegiatan belajar mengajar usai tanpa alasan yang jelas.
"Memang ada beberapa anak yang pulangnya agak siang itu sering protes, bu pulang, 'Mau ngapain?' ya ingin pulang," kata Hadi menceritakan kembali interaksi di dalam ruang kelas.
Sebelumnya: Kortas Tipikor Polri Tetapkan 3 Tersangka Korupsi Modal Terkait Batu Bara
Selanjutnya: Pria di Lubuklinggau Bakar Rumah Mertua, 11 Rumah Hangus, Kerugian Rp 2 Miliar
Artikel Terkait
- Kebakaran Terjadi di Waterbom Al Barokah Indramayu, Tak Ada Korban dan Penyebab Diselidiki
- Bicara Program CKG, Prabowo Ungkap Banyak Rakyat yang Sakit Gigi
- Benarkah "Remote Working" Bisa Kurangi Emisi Karbon?
- Pertamina Tegaskan Akan Tindak Sopir Mobil Tangki yang Melanggar di Medan
- Jangan Salah Pilih, Ini Perbedaan Telur Cokelat dan Telur Putih
- PM Israel Dukung Argentina di Final Piala Dunia, Sebut Presiden Milei Sahabat
- Live Bareng Rizky Nazar Jadi Sorotan, Anjasmara: Saya Tidak Sebut Nama
- Sakit Hati Sejak Kecil dan Terbelit Utang Jadi Motif Anak Angkat Habisi Ayah di Nganjuk
