Primata Kunci Cegah Kepunahan Massal akibat Perubahan Iklim

Para ilmuwan khawatir dunia sedang menuju kepunahan massal keenam, yaitu peristiwa di mana tiga perempat spesies di Bumi lenyap.
Kepunahan hebat seperti ini pernah terjadi lima kali sepanjang sejarah. Namun berbeda dari masa lalu, kepunahan kali ini sebagian besar dipicu oleh ulah manusia, seperti polusi dan perubahan iklim.
Para peneliti kini berlomba mencari cara untuk mencegah kehancuran tersebut, yang juga bisa mengancam pasokan makanan dunia secara serius.
Melansir Independent, Selasa (14/7/2026) Amy McEuen seorang peneliti dari Illinois, Amerika Serikat percaya ia telah menemukan jawabannya saat melakukan penelitian di pegunungan Provinsi Yunnan, China barat daya.
Pegunungan tersebut melindungi tempat tinggal 16 jenis primata seperti owa, monyet berhidung pesek, lutung, kera, dan kukang. Dan menurut McEuen, tempat itu bisa membantu melindungi hewan dan tumbuhan lain di ekosistem tersebut, sekaligus menjadi contoh untuk upaya pelestarian di masa depan.
“Usaha melindungi panda di China terbukti sangat berhasil menyelamatkan ratusan spesies asli lainnya. Ini karena panda membutuhkan area hutan yang sangat luas untuk bertahan hidup,” kata McEuen, profesor biologi dari University of Illinois Springfield.
“Dengan jutaan spesies yang harus dilindungi, kita tidak punya cukup waktu untuk menyelamatkannya satu per satu. Untungnya, ada cara yang lebih cepat untuk menjaga keanekaragaman hayati, yaitu menggunakan pendekatan umbrella species (spesies payung),” jelasnya.
Pendekatan umbrella species
Primata, serta kelompok hewan lain seperti kucing besar seperti harimau atau singa dan reptil, adalah "spesies payung" yang membutuhkan wilayah jelajah sangat luas.
"Dengan melindungi habitat yang luas bagi hewan-hewan kunci ini, makhluk hidup lain di sekitarnya juga otomatis terlindungi dari bahaya ulah manusia," jelas McEuen.
Beberapa hewan yang paling disukai di dunia seperti orangutan, berang-berang laut, dan panda juga merupakan spesies payung. Hal ini dapat mempermudah usaha untuk mengajak orang-orang melestarikan mereka.
Namun, tentu saja ada tantangan lain yang bisa menghambat. Banyak hewan sering berpindah tempat, sehingga jauh lebih sulit untuk dilindungi.
McEuen menyebut upaya melindungi hewan yang sering berpindah tempat ini sebagai masalah yang lebih rumit.
“Meski begitu, kita bisa memikirkan cara menyediakan area persinggahan atau batu loncatan habitat di sepanjang jalur perjalanan mereka untuk membantu mereka,” catatnya.
Namun, para pelestari alam kini berpacu dengan waktu. Bumi kehilangan berbagai jenis kelompok hewan dengan kecepatan yang sama seperti kepunahan massal di masa lalu, yaitu ratusan hingga ribuan spesies setiap tahunnya.
“Kabar baiknya, kita belum benar-benar kehilangan mereka,” kata McEuen.
Menurutnya, tidak ada usaha yang terlalu kecil. Menanam taman bunga pemikat serangga di halaman atau di atap rumah saja sudah bisa membantu menjaga populasi serangga beserta hewan pemangsanya.
Hewan-hewan itu sendiri memberi kita alasan untuk tetap optimis. Sudah ada bukti bahwa beberapa spesies mulai beradaptasi dengan perubahan iklim, seperti mengubah ukuran tubuh dan perilaku mereka. Keanekaragaman genetik di dalam satu spesies juga membuat sebagian hewan lebih tahan banting dibanding yang lain.
Hal inilah yang sedang dicoba dikembangkan oleh para ilmuwan di laboratorium.
“Menurut saya, memanfaatkan kecerdasan kita untuk membantu alam juga memberi saya harapan, terutama saat berusaha menjaga keanekaragaman hayati yang ingin kita lestarikan,” kata McEuen.
Sebelumnya: 29.830 Calon Manajer Koperasi Merah Putih Digembleng, Pemerintah Kejar SDM Siap Kelola Ekonomi Desa
Selanjutnya: Profil Timnas Argentina Jelang Final Piala Dunia 2026 Lawan Spanyol
Artikel Terkait
- Pencarian Hari Ke-empat Belum Membuahkan Hasil, 25 Korban KM Nurul Salsa Masih Hilang
- Sejoli Rampok Rumah di Klaten, Ancam Korban Pakai Parang
- Ada Konser Akbar di Monas Malam Ini, Simak Rekayasa Lalinnya
- Membongkar Brankas Eks Bupati Sukoharjo: Ada Emas 2,5 Kg dan Gepokan Miliaran Rupiah
- Gaji Kepala Daerah Stagnan Seperempat Abad, Rencana Revisi Sempat Kandas
- Pierluigi Collina Ungkap Sulitnya Pilih Wasit dan Jawab Kontroversi VAR
- Mengapa Kita Sulit Berhenti Membaca Berita Buruk? Ini Penjelasan Psikoterapis
- 6 Hal Terimbas dari Saling Serang Terbaru Iran Vs AS
