Soal Kemunculan Liga Aspal, Pramono: Karena Keterbatasan Fasilitas Olahraga di Jakarta

"Terus terang, saya ngikutin Liga Aspal, karena saya melihat adanya kegembiraan di anak-anak yang memanfaatkan itu. Tapi karena keterbatasan fasilitas di Jakarta dengan jumlah penduduk yang segini banyak, 11 juta orang, termasuk tempatnya, sebenarnya itu tempat KAI gitu," kata Pramono di Balai Kota Jakarta, Jakarta Pusat, dilansir dari Antara, Jumat (17/7/2026).
Karena itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta berkomitmen menghadirkan fasilitas olahraga bagi anak-anak di tengah keterbatasan ruang di Ibu Kota.
Kendati demikian, Pramono mengakui pembangunan fasilitas olahraga belum dapat dilakukan secara menyeluruh dalam waktu dekat.
"Walaupun belum semuanya bisa dilakukan, tetapi beberapa sekarang ini kami bangunkan kembali," jelas Pramono.
Untuk diketahui, liga sepak bola jalanan mulai bermunculan di permukiman padat Jakarta, seperti Liga Akamsi di Tambora, Jakarta Barat, dan Liga Aspal di Menteng Jaya, Jakarta Pusat.
Kedua liga yang digelar secara swadaya oleh warga tersebut muncul akibat mahalnya biaya sewa lapangan futsal serta minimnya ruang terbuka hijau (RTH) di kawasan padat penduduk.
Baca juga:
Oleh sebab itu, Pemprov DKI Jakarta mulai membangun kembali sejumlah fasilitas olahraga secara bertahap sebagai respons terhadap kebutuhan anak-anak akan ruang bermain yang aman dan nyaman.
Sebagai informasi, Karang Taruna RW 08 Kelurahan Menteng, Jakarta Pusat, berinisiatif menggelar turnamen sepak bola jalanan bertajuk "Liga Aspal" yang dikhususkan bagi anak-anak usia di bawah 13 tahun (U-13)
Liga Aspal ini baru pertama kali digelar dan berlangsung sejak 20 Juni 2026 dan ditargetkan selesai pada 18 Juli 2026.
Ketua Karang Taruna RW 08 Menteng, Andicka Prasetia atau yang akrab disapa Odoy (27), menjelaskan kegiatan ini bermula dari keresahan melihat anak-anak yang setiap hari terpaksa bermain bola di tengah jalan kampung.
Inisiatif ini juga terinspirasi dari gerakan serupa di media sosial yang berhasil menarik perhatian publik sebelumnya, yaitu Liga Akamsi di Tambora, Jakarta Barat.
"Karena kan setiap harinya di sini hampir setiap sore ngelihat anak-anak main bola di jalanan. Ya sudah kenapa enggak kita fasilitasi, akhirnya Liga Aspal ini jadi wadah buat mereka," kata Andicka saat ditemui Kompas.com di Menteng Jaya, Jakarta Pusat, Kamis (2/7/2026).
Andicka mengungkapkan, budaya bermain sepak bola di kampung tempat tinggalnya sudah sangat kuat sejak ia masih kecil.
Namun, saat ini nyaris tidak ada lahan kosong yang bisa diakses secara gratis oleh warga maupun anak-anak untuk bermain bola.
Akhirnya, anak-anak terpaksa harus bermain di tengah jalanan kampung yang letaknya bersebelahan dengan jalur rel kereta api.
"Di kampungan ini emang udah full semuanya permukiman rumah, udah enggak ada sama sekali lahan kosong lapangan. Kalaupun mau main bola harus keluar kampung, itu pun nyewa lapangan futsal yang biayanya minimal Rp 100.000 sampai Rp 150.000 per jam. Jadi hobi dan bakat mereka main bola itu susah tersalurkan dengan baik," tuturnya.
Sebelumnya: Sirop Tumpah yang Bikin Gelombang Dahsyat Seperti Tsunami
Selanjutnya: Dana Kelolaan Sucor AM Tembus Rp 42,6 Triliun hingga Juni 2026
Artikel Terkait
- Piala Dunia, Pelarian Sejenak dari Tekanan Hidup
- Polisi Tunggu Persetujuan Keluarga Autopsi Bocah Disiksa Ibu Tiri di Bekasi
- Telur Ceplok atau Dadar, Mana yang Lebih Sehat?
- Sederet Fakta Menarik Final Piala Dunia 2026 Spanyol Vs Argentina, Siapa Ukir Sejarah?
- Pelaku Begal Pembacok Pria di Koja Jakut Tinggalkan Gancu, Polisi Kantongi Identitasnya
- Kampus Klarifikasi soal Rachmi yang Temui Dedi Mulyadi di Padang, Sebut Terkendala Akademik
- Konser Akbar Monas Sediakan 8 Kantong Parkir, Tampung 5.020 Kendaraan
- Dukungan Polisi di Pelalawan Boat Racing, Pesona Wisata Sungai Kampar
